Thursday, January 27, 2011

ILMU YANG BERMANFAAT.....

Ilmu yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya ada yang memberikan manfaat ada pula yang tidak. Di sisi lain, ada pula ilmu yang pada asalnya sama sekali tidak memberikan manfaat, sehingga manusia harus menjauhinya. 

Allah telah menyebut ilmu dalam kitab-Nya Al Qur’an terkadang dengan memujinya seperti dalam surat Az Zumar ayat 9: 
“Katakanlah, adakah sama antara orang-orang yang mengetehui dengan orang-orang yang tidak mengetehui? Sesungguhnya orang-orang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. 

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu. Segolongan berperang di jalan Allah dan yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang muslim dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati”. (QS.Ali Imran:13) 

Terkadang Allah menyebutnya dengan celaan. Ilmu yang Allah puji itu adalah ilmu yang bermanfaat dan yang Allah cela adalah ilmu yang asalnya tidak bermanfaat, atau bisa jadi pada asalnya bermanfaat, tapi orang yang dikaruniainya tidak bisa mengambil manfaat darinya. Sebagaimana Allah beritakan tentang sebuah kaum yang Allah beri ilmu namun ilmu itu tidak memberi mereka manfaat. 

Allah berfirman: 
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amat buruklah kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim”. (QS. Al Jumuah: 5) 

”Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami. Kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (hingga dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat”. (QS. Al A’raf: 175) 

Dalam ayat ini maksudnya ilmu itu sesungguhnya bermanfaat akan tetapi orang yang dikaruniai tidak bisa memanfaatkannya. Adapun ilmu yang pada dasarnya dicela oleh Allah adalah seperti tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 102 dan surat Ar Rum ayat 7. 

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (karena mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan pada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut. Sedang keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorangpun sebelum mengatakan: Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, karena itu janganlah kamu kafir. 

Maka mereka mempelajari dari dua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang suami dengan istrinya. Dan mereka itu tidak memberi mudharat kepada seorangpun dengan sihirnya kecualin atas izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa menukar kitab Allah dengan sihir itu, tiadalah keuntungan baginya di akherat. Dan amat jahatlah perbuatan mereka menukar dirinya dengan sihir kalau mereka mengetahui”. (QS. Al Baqarah: 102) 
“Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang kehidupan akherat adalah lalai". (QS.Ar Rum: 7) 

Karena ilmu itu ada yang terpuji yaitu yang bermanfaat dan ada yang tercela yaitu yang tidak bermanfaat, maka kita dianjurkan untuk memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindung kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat. (Fadl Ilm Salaf: 11-13) 

Ibnu Rajab Al Hanbali menjelaskan tentang ilmu yang bermanfaat. Beliau mengatakan, pokok segala ilmu adalah mengenal Allah subhanahu wa ta'ala yang akan menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, cinta kepada-Nya, dekat terhadap-Nya, tenang dengan-Nya, dan rindu pada-Nya. Kemudian setelah itu berilmu tentang hukum-hukum Allah, apa yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya dari perbuatan, perkataan, keadaan, atau keyakinan hamba. 

Orang yang mewujudkan dua ilmu ini, maka ilmunya adalah ilmu yang bermanfaat. Ia, dengan itu, akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyu’, jiwa yang puas, dan do’a yang mustajab. Sebaliknya yang tidak mewujudkan dua ilmu yang bermanfaat itu, ia akan terjatuh ke dalam empat perkara yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berlindung darinya. Bahkan ilmunya menjadi bencana buatnya, ia tidak bisa mengambil manfaat darinya karena hatinya tidak khusyu’ kepada Allah subhanahu wa ta'ala, jiwanya tidak merasa puas dengan dunia, bahkan semakin berambisi terhadapnya. Doanyapun tidak didengar oleh Allah karena ia tidak merealisasikan perintah-Nya serta tidak menjauhi larangan-Nya dan apa yang dibenci-Nya. 

Lebih-lebih apabila ilmu tersebut bukan diambil dari Al Qur’an dan As Sunnah, maka ilmu itu tidak bermanfaat dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Yang terjadi, kejelekannya lebih besar dari manfaatnya. 

Ibnu Rajab juga menjelaskan, ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan benar ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam serta memahami maknanya sesuai dengan yang ditafsirkan para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Lalu mempelajari apa yang datang dari mereka tentang halal dan haram, zuhud dan semacamnya, serta berusaha mepelajari mana yang shahih dan mana yang tidak dari apa yang telah disebutkan. 

Kemudian berusaha untuk mengetahui makna-maknanya dan memahaminya. Apa yang telah disebut tadi sudah cukup bagi orang yang berakal dan menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat. (Fadl Ilm Salaf Alal Khalaf 41, 45, 46, 52, 53) 

Ilmu yang bermanfaat akan nampak pada seseorang dengan tanda-tandanya, yaitu: 
1. beramal dengannya. 
2. benci disanjung, dipuji dan takabbur atas orang lain. 
3. semakin bertawadhu’ ketika ilmunya semakin banyak. 
4. menghindar dari cinta kepemimpinan, ketenaran dan dunia. 
5. menghindar untuk mengaku berilmu. 
6. bersu’udzan (buruk sangka) kepada dirinya dan husnudzan (baik sangka) kepada orang lain dalam rangka menghindari celaan kepada orang lain. 
(Lihat Fadl Ilm Salaf Hal. 56-57 dan Hilyah Thalib Ilm Hal. 71) 

Sebaliknya ilmu yang tidak bermanfaat juga akan nampak tanda-tandanya pada orang yang menyandangnya yaitu: 
1. tumbuhnya sifat sombong, sangat berambisi dalam dunia dan berlomba-lomba padanya, sombong terhadap ulama, mendebat orang-orang bodoh, dan memalingkan perhatian manusia kepadanya. 
2. mengaku sebagai wali Allah subhanahu wa ta'ala. Atau merasa suci diri. 
3. Tidak mau menerima yang hak dan tunduk kepada kebenaran, dan sombong kepada orang yang mengucapkan kebenaran jika derajatnya di bawahnya dalam pandangan manusia, serta tetap dalam kebatilan. 
4. menganggap yang lainnya bodoh dan mencacat mereka dalam rangka menaikkan dirinya di atas mereka. Bahkan terkadang menilai ulama terdahulu dengan kebodohan, lalai, atau lupa sehingga hal itu menjadikan ia mencintai kelebihan yang dimilikinya dan berburuk sangka kepada ulama yang terdahulu. 
(Lihat Fadl Ilm Safaf: 53, 54, 57, 58) 



myMetro | Setiap orang ada jodohnya

myMetro | Setiap orang ada jodohnya

http://www.hmetro.com.my/articles/Kedaiperalatpelajartahfizjualbarangdiserbu/Article

http://www.hmetro.com.my/articles/Kedaiperalatpelajartahfizjualbarangdiserbu/Article

Saturday, January 22, 2011

Subject: soalan yang patut diberi penampar....


> Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke 
> tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya 
untuk 

> mencari seorang guru agama, kiyai atau sesiapa sahaja yang boleh 
> menjawab 3 pertanyaannya. 
> 
> Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang 
> kiyai. 
> Pemuda: Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan 
saya? 
> Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab 
> pertanyaan anda. 
> Pemuda: Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar 
> tidak mampu menjawab pertanyaan saya. 
> Kiyai : Saya akan mencuba sejauh kemampuan saya. 

> Pemuda: Saya ada 3 pertanyaan:- 

> 1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya 
> 2. Apakah yang dinamakan takdir 
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka 
yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. 
Sebab mereka memiliki unsur yang sama. 
> Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu? 
> 
> Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras. 
> 
> Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya? 
> Kiyai : Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 
> pertanyaan yang anda ajukan kepada saya. 
> Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti. 
> Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya? 
> Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit. 
> Kiyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu > > ada? 
> Pemuda: Ya! 
> Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu! 
> 
> Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama...kita semua merasakan 
> kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat. 
Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya? 
> Pemuda: Tidak. 
> Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima sebuah 
> tamparan dari saya hari ini? 
> Pemuda: Tidak. 
> Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir. 
> Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar 
anda ? 
> Pemuda: Kulit. 
> Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda? 
> Pemuda: Kulit. 
> Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya? 
> Pemuda: Sakit. 
> Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga 
terbuat 
> dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat 
> yang menyakitkan untuk syaitan. 
> 

Kaum Hawa harus baca.....

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud :

"Dua golongan di kalangan ahli neraka yang tidakkan aku pandang iaitu kaum yang bersama mereka cemeti seperti ekor lembu yang dengannya digunakan memukul orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian bagaikan bertelanjang yang condong kepada maksiat dan menarik orang lain untuk membuat maksiat. SANGGUL DIKEPALA MEREKA DITUSUK TINGGI-TINGGI SEPERTI BONGGOL UNTA YANG SANGAT LEMAH. Mereka ini tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium baunya sedangkan sesungguhnya bau syurga itu sudah boleh dicium dari jarak demikian dan demikian."
(Riwayat Muslim)

Hadis yang menyatakan seperti bonggol unta itu ditujukan kepada semua wanita yang tidak menutup aurat dengan sempurna. Mereka memakai pakaian yang jarang, nipis mahupun ketat sehingga boleh menampakkan warna kulit dan susuk tubuh. Pemakaian seperti ini adalah dilarang sama sekali oleh Islam terhadap para wanita kerana mereka seolah-olah bertelanjang juga.

Sanggul rambut di kepala yang selalu para wanita memakainya bukanlah membawa maksud seperti hadis di atas secara mutlaknya. Boleh sahaja untuk memakai sanggul asalkan tidak mendedahkan aurat di hadapan lelaki bukan mahramnya.

Kaum Hawa harus baca.....

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud :


"Dua golongan di kalangan ahli neraka yang tidakkan aku pandang iaitu kaum yang bersama mereka cemeti seperti ekor lembu yang dengannya digunakan memukul orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian bagaikan bertelanjang yang condong kepada maksiat dan menarik orang lain untuk membuat maksiat. SANGGUL DIKEPALA MEREKA DITUSUK TINGGI-TINGGI SEPERTI BONGGOL UNTA YANG SANGAT LEMAH. Mereka ini tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium baunya sedangkan sesungguhnya bau syurga itu sudah boleh dicium dari jarak demikian dan demikian."
(Riwayat Muslim)

Hadis yang menyatakan seperti bonggol unta itu ditujukan kepada semua wanita yang tidak menutup aurat dengan sempurna. Mereka memakai pakaian yang jarang, nipis mahupun ketat sehingga boleh menampakkan warna kulit dan susuk tubuh. Pemakaian seperti ini adalah dilarang sama sekali oleh Islam terhadap para wanita kerana mereka seolah-olah bertelanjang juga.

Sanggul rambut di kepala yang selalu para wanita memakainya bukanlah membawa maksud seperti hadis di atas secara mutlaknya. Boleh sahaja untuk memakai sanggul asalkan tidak mendedahkan aurat di hadapan lelaki bukan mahramnya.

Monday, January 17, 2011

PERKARA ASAS DALAM MEMBINA KELUARGA

Di dalam Islam, untuk membentuk sebuah keluarga yang baik, bukan difikirkan setelah pasangan teruna dara itu berumahtangga. Tetapi ia difikirkan sejak teruna dan dara itu masih bayi lagi. 
Mengapa? 
Ini kerana sumber didikan, sumber kasih sayang, sumber kebahagiaan, sumber keharmonian, sumber anak-anak boleh taat dan hormat kepada ibu bapa adalah berpunca dari sumber rasa takut dan cinta kepada Tuhan. 
Sebab itu sejak kecil lagi mesti ditanam rasa takut dan cinta kepada Tuhan agar anak-anak nanti menjadi insan yang bertanggung jawab, amanah, jujur, berkasih sayang, pemurah, pemaaf, suka bertolak ansur, tolong menolong dan sebagainya.

Dari rasa takut dan cinta terhadap Tuhan yang diadun pula dengan syariat Tuhan, itulah modal untuk membangunkan sebuah keluarga. Dari situ pula menjadi modal terbangunnya sebuah masyarakat, seterusnya sebuah negara dan empayar di dunia. Kalau perkara yang asas itu tidak disiapkan sejak ia masih bayi lagi, tiba-tiba bila sudah ada keluarga baru hendak bertanggungjawab, bukan sahaja anak-anak dan isteri atau suami yang menjadi cabaran; itu merupakan cabaran yang kedua; tetapi cabaran yang pertama dan utama ialah diri sendiri. 

Disebabkan tidak ada rasa takut dan cintakan Tuhan di dalam diri, kita sendiri gagal menjadi pemimpin, ayah atau suami, ibu atau isteri yang baik di dalam keluarga tersebut. 
Mustahil seseorang boleh mencurahkan kasih sayang dan memberi kebahagiaan kepada orang lain sedangkan dirinya sendiri pun tidak merasa bahagia. Mana mungkin seorang ayah hendak memberi kebahagiaan kepada anak-anak dan isterinya sedangkan dia sendiri pun tidak bahagia. Mana mungkin seorang pemimpin dapat memberi kebahagiaan kepada rakyatnya jika dirinya sendiri pun tidak merasa bahagia. Sebab itu, kalau anak-anak yang menjadi masalah, bukan mereka yang harus dipersalahkan tapi kedua ibu bapa merekalah yang bersalah. 

Kalau ada pasangan teruna dara yang hendak berkahwin, satu kesilapan yang besar jika mereka memikirkan perkahwinan hanya untuk menyelesaikan tuntutan fitrah (tuntutan biologi). Hampir 99.9 % yang hendak berkahwin hanya bertujuan untuk memuaskan tuntutan nafsu sahaja. Kasih sayang antara suami isteri yang lahir hasil dari tuntutan fitrah sahaja, ia akan luntur. Bila sakit, kurang menawan, kurang bertenaga dan sebagainya, maka akan lunturlah kasih sayang antara mereka. Si suami atau isteri akan mencari pasangan yang lain untuk menyempurnakan tuntutan fitrah mereka pula.

Kalau begitu, setiap pasangan suami isteri yang berkahwin mesti difahamkan tujuan dan matlamat mereka berkahwin. Berkahwin bukan semata-mata melepaskan tuntutan fitrah, tetapi mesti ada cita-cita untuk perjuangan Islam. Bila ada cita-cita ini, barulah kedua pasangan suami isteri akan bertanggungjawab terhadap satu sama lain serta dapat melaksanakan amanah mendidik anak-anak sejak kecil sepertimana yang digariskan oleh syariat Islam. 

Barulah kita sedar sekarang sebenarnya masalah yang dibuat oleh anak-anak bukan berpunca dari diri mereka tetapi berpunca dari masalah kedua ibu bapa mereka yang tidak dididik secara Islam. Persiapan untuk membina keluarga Islam ini perlu dibuat dari awal lagi agar hasilnya benar-benar memberi hasil yang lumayan. 

Umpama seorang petani yang hendak menanam padi. Tanpa disemai, dikawal, dijaga benih tersebut, mana mungkin boleh memberi hasil padi yang banyak. Ditakuti dapat padi tak berisi (sambang). Atau kerana tak dijaga, padi dimakan burung atau tikus. 
Justeru itu pembinaan sebuah keluarga bahagia harus bermula dengan cita-cita Islam dan modalnya ialah rasa takut dan cinta kepada Tuhan. 

Friday, January 14, 2011

berwaspada la...

Salam... Kod lemak babi,Check jangan main beli je junk food...
1. E 100 16. E 280 31. E 434 46. .E 482
2. E 110 17. E 300 32. E 435 47. E 483
3. E 120 18. E 301 33. E 436 48. E 491
4. E 140 19. E 325 34. E 440 49. E 492
5. E 141 20. E 326 35. E 441 50. E 493
6. E 153 21. E 327 36. E 470 51. E 494
7. E 160 22. E 334 37. E 471 52. E 495
8. E 161 23. E 335 38. E 472 53. E 542
9. E 210 24. E 336 39. E 473 54. E 570
10. .E 213 25. E 337 40. E 474 55. E 572
11. E 214 26. E 422 41. E 475 56. E 631
12. E 216 27. E 430 42. E 476 57. E 635
13. E 234 28. E 431 43. E 477 58. E 904
14. E 252 29. E 432 44. E 478 59. E 920
15. E 270 30. E 433 45. E 481
Yang jelas nye…..pringles pun ader gak lemak binantang ni…kalau tak caya tengok ada E471 kat ingredients nya tu…memang patut lah Allah turunkan bala virus influenza tu….
Tidak hairan lah kalau sekarang ni ramai sangat samseng, yang muda, yang tua..laki..perempuan. ..sama jer…..solat yang wajib main tinggal je..doa pun banyak yang tak termakbul ekoran makanan2 seperti ni yang jadi darah daging…… .nauzubillah. .
Bagaimana nak lahirkan lebih ramai islam yang betul2 ‘muslim’… dari kecik dah disuapkan dengan makanan2 mengarut ni… yang hairan nya bagaimana boleh ada tanda HALAL bagi makanan2 tersebut?
Bijaknya orang2 kafir memperdayakan orang2 Islam hanya dengan makanan….. . Kebijaksanaan mereka takkan kekal lama…
Tapi…ingatlah suatu masa yang telah ditetapkan oleh Allah swt, orang2 mukmin akan bangkit jua…
Jika kita sedar dan prihatin..forward lah untuk rakan2 seislam…semoga kita lebih berhati2 dengan tipu daya & helah musuh2 Allah swt.. Salam...